Menyoal Booming Iklan Tong Fang, Strategi Pemasaran yang Gagal atau Berhasil?
“Dulu saya menderita diabetes yang parah, namun setelah berobat ke klinik Tong Fang, penyaklt saya tidak kambuh lagi…Terimakasih Tong Fang…”
Demikian kira-kira secuplik bunyi iklan sebuah klinik kesehatan Tong Fang dengan metode pengobatan dari China, yang akhir-akhir ini menyedot perhatian sebagian besar orang, karena begitu sering tayangannya muncul di layar televisi. Booming iklan klinik kesehatan Tong Fang yang berhasil menyedot perhatian netizen dunia maya, menjadi cerita menarik. Banyak orang kemudian menjadi kreatif mencipta iklan sejenis yang diplesetkan dan diparodikan menjadi bahan lucu-lucuan dan olok-olok. Iklan tersebut sukses menyita perhatian. Menjadi trending topic dijagat tweeter. Melahirkan banyak kicauan tweet yang mengundang senyum. Tersebar dari broadcast ke broadcast di BBM. Semuanya adalah media yang paling efektif yang membuat iklan ini menjadi bahan perbincangan.
Meski terkesan booming, lalu benarkah hal ini kemudian menjadi strategi pasar yang efektif membuat klinik ini menjadi brand yang positif di mata masyarakat? Sesungguhnya hal yang menarik dari materi iklan ini sendiri adalah materi iklannya dengan gaya yang jadul, dengan testimoni yang terkesan “berlebihan” dan durasi tayang berulang-ulang. Ada banyak iklan serupa untuk beberapa produk. Sebagai contoh iklan larutan penyegar. Dengan tagline pendek, diucapkan berulang-ulang. Kalau hanya penetrasi pasar yang dalam artian menancap dan diingat oleh konsumen, mungkin apa yang dibuat klinik Tong Fang ini cukup berhasil. Namun kemudian masih perlu ditelaah lagi apakah imagenya positif atau negatif terhadap brand klinik ini. Apakah itu bentuk pemasaran yang menguntungkan atau malah menjadi semacam bumerang yang membuat image klinik ini menjadi buruk di mata masyarakat.
Iklan ini sendiri pernah mendapat peringatan KPI karena materi iklan mengenai testimoni dianggap melanggar peraturan menteri kesehatan. “Iklan tersebut menayangkan testimoni pasien dan pemberian diskon bila pasien melakukan pengobatan di klinik tersebut tidak diperbolehkan dalam Peraturan Menteri kesehatan No. 1787 Tahun 2012 mengenai Iklan dan Publikasi Pelayanan Kesehatan,” demikian informasi lewat situs resmi KPI Pusat per tanggal 31 Mei 2012 lalu. Sumber disini.
Mungkin tak pernah diduga sebelumnya, bila kemudian testimoni sebagian pengguna klinik yang digambarkan secara fantastis berhasil sembuh dari berbagai penyakit akan menjadi bahan pergunjingan orang di jagat maya hingga menginspirasi orang menjadi begitu kreatif mencipta aneka iklan sejenis yang berkonotasi olok-olok.
Atau mungkin malah sebaliknya orang kemudian menjadi begitu penasaran dengan klinik kesehatan ini. Dan kemudian berbondong-bondong datang membuktikan keampuhannya.
Saya bukan pakar marketing. Dan ini hanyalah analisa amatir saya semata. Mungkin saya ingin berterimakasih juga sama Tong Fang, karena dulu saya ga pernah pede bikin tulisan di rubrik ekonomi, sekarang berkat Tong Fang tiba-tiba saya jadi pengamat iklan amatir…Trimakasih Tong Fang…:)
Bagaimana menurut anda?
source

0 comments:
Post a Comment