Percaya Karena Bukti atau Percaya karena Percaya ?

by 21:57 0 comments
Bagaimana kita mengetahui segala sesuatu yang kita ketahui ? Bagaimana kita tahu kalau api membakar dan es membekukan ? Jawabannya ada pada "bukti" . Bukti hadir melalui kemampuan kita dalam melihat, mendengar, mencium, merasakan, dab lainnya. Kita percaya api dapat membakar karena melihat gulungan kertas berubah menjadi abu dalam hitungan sesaat. Kita percaya api bersifat panas setelah bersentuhan atau berada sangat dekat dengannya. 
Namun, bukti tidak mesti hadir sebagai sesuatu yang primer. Seorang detektif dapat memecahkan suatu kasus pembunuhan, meskipun tidak menjadi saksi langsung kejadian itu. Melalui sidik jari yang tertinggal pada gagang golok dan olah lokasi, sang detektif dapat merekonstruksi kejadian yang tidak dilihatnya dan menemukan pelaku. Pengajuan bukti menjadi cara kerja utama sains. Seorang saintis mesti mendasarkan penemuannya pada bukti. Bukti ini mesti dapat diverifikasi dan mampu bertahan dari kritik pertanyaan, yang jika terjadi sebaliknya, akan berakibat pada runtuhnya tesis tersebut. Sesuatu yang sesungguhnya wajar karena dengan inilah sains berkembang. Tesis seseorang saintis memang bukan sesuatu yang sakral.
Namun, bukan berarti sains tidak memberikan ruang pada dugaan. Justru menduga adalah bagia awal dari kerja saintis. Dugaan awal ini kita kenal sebagai hipotesis. Melalaui proses hipotesis, saintis dapat menyusun prediksi atau sederet kemungkinan atas apa yang mungkin terjadi.
Dugaan, atau katakanlah inspirasi, tetap mempunyai tempatan dalam sains, namun porsinya hanya sebatas memberi landasan pada asumsi dasar di mana asumsi ini tetap harus dibuktikan. Dugaan akan memberikan ilustrasi mengenai jalan menuju eksperimen atau memberikan gambaran besar apakah dugaan ini pantas ditindaklanjuti dengan eksperimen atau tidak. Melalui bukti, maka konsensus dapat diraih. Bandingkan dengan "kepercayaan" yang tidak mengenal kata putus bahkan sering memicu perselisihan. Kepercayaan tidak mudah diverifikasi karena didasarkan pada sesuatu yang subjektif dan tidak empiris.

-- Mimpi Kosong, Mimpi Isi --

abdul

Blogger

instagram : abdwhd14 // twitter : @abdwhd // email : abdwhdpsn@gmail.com

0 comments: