JIKA membaca tulisan ini bisa dipastikan Anda pernah menggunakan layanan pesan singkat alias Short Message Service (SMS). SMS kini menjadi bagian penting dalam berkomunikasi di era modern. Namun akankah SMS tetap eksis di tengah serbuan sejumlah media sosial?
Menurut Wikipedia, SMS pertama kali dikirimkan Neil Papworth dari Sema Group pada 3 December 1992. Menggunakan jaringan GSM Vodafone, Papworth mengirimkan pesan singkat (bahkan sangat singkat) kepada rekannya Richard Jarvis. Pesannya berbunyi “Merry Christmas”. Papworth mengirimkan SMS menggunakan komputer pribadinya.
Sejak dikirimkan pertama kali 19 tahun lalu, SMS telah berkembang menjadi industri yang mengiringi kepopuleran telepon seluler (ponsel). SMS bahkan menjadi salah satu fitur utama yang dijual. Hingga 2010 jumlah SMS yang dikirimkan di seluruh dunia mencapai 6,1 triliun, atau sekitar 192.000 setiap detik. SMS juga menjadi penyebab utama bangkrutnya bisnis Pager yang sempat menjadi fenomena. SMS juga dianggap sebagai biang kerok tidak diliriknya bisnis kartu ucapan Natal dan Idul Fitri.
Di Indonesia, SMS sangat populer. Harganya yang sangat terjangkau membuat layanan ini menjadi pilihan. Saking populernya sehingga SMS pun sempat dimasukkan dalam lagu dangdut yang sangat terkenal yang liriknya antara lain: “...bang SMS siapa ini bang…” yang pertama kali dinyanyikan Ria Amelia.
Hingga 2009, masih menurut Wikipedia, pengguna ponsel di Indonesia mencapai angka 168 juta. Indonesia menempati peringkat enam dunia negara pengguna ponsel terbesar, sesudah Cina, India, Amerika Serikat, Brasil dan Rusia. Dengan asumsi bahwa pemilik ponsel juga memanfaatkan SMS, maka setidaknya dari 10 orang di Indonesia, 7 di antaranya biasa menggunakan SMS.
Tingginya tingkat pemakaianSMS membuat bisnis terkait pesan singkat ini tumbuh dengan subur. Layanan isi pulsa elektronik, misalnya, didasarkan pada sistim kerja SMS. Begitu juga dengan layanan terkait SMS yang sempat booming dan ramai diiklankan di media massa, dan belakangan menuai kontroversi karena dianggap sebagai penipuan sebab menyedot pulsa pengguna.
Tantangan
Eksistensi SMS mendapat tantangan serius dengan merebaknya sejumlah media sosial. Twitter disebut-sebut sebagai pesaing serius SMS. Kini banyak pengguna Twitter yang memilih berkomunikasi dengan cara ‘berkicau’ dibanding mengirimkan SMS yang dianggap sebagai metode konvensional. Tantangan juga muncul dari Facebook, yang menyempurnakan fitur message. Begitu juga Google+ yang menyediakan fasilitas chatting yang oke punya.
Bagi pengguna Blackberry, SMS juga dianggap sebagai ‘produk kuno’. Cara berkomunikasi melalui SMS telah digantikan oleh layanan yang lebih canggih, Blackberry Messenger (BBM).
Pertanyaannya, akankah SMS tergerus soleh kehadiran media sosial? Mungkin tidak. Dari sisi kuantitas, mungkin ada pengaruh. Namun media sosial tak akan pernah membunuh SMS. Layanan ini memiliki nilai tambah yang tidak dimiliki media sosial populer saat ini. Yakni tarifnya yang murah meriah. Sepanjang masih ada pulsa, pengguna tetap bisa mengirimkan SMS, tanpa harus menunggu online.
Pada akhirnya memang, seleksi alamlah yang berlaku. Kelak, SMS mungkin hanya digunakan oleh mereka yang suka praktis dan enggan memanfaatkan media sosial guna mengisi kehidupan pribadi. Sementara mereka yang ‘melek teknologi’ mungkin memilih layanan pesan singkat alternatif yang disediakan sejumlah media sosial terkemuka.
Yang mana pilihan Anda?


0 comments:
Post a Comment